(Catatan Harian) Kegaguan Intelektual? Kepekaan yang Sengaja Dimatikan

JAMIL : "Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kau katakan tadi. Generasi sekarang mengalami kesulitan dalam masalah hubungan. Hubungan antar sesama manusia. Mereka mengalami apa yang disebut kegaguan intelektual. Kita makin cemas, kita seakan akan mengalami kemiskinan artikulasi. Di sementara sekolah di banyak sekolah malah, mengarang pun bukanlah menjadi pelajaran utama lagi, sementara makin banyak gagasan yang harus diberitahukan ke segala sudut. Pertukaran pikiran makin dibutuhkan."

SAENAH"Ya, seperti pertukaran pikiran malam ini. Kita harus yakin akan manfaat pertukaran. Ada gejala dalam masyarakat di mana orang kuat dan berkuasa segan bertukar pikiran. Untuk apa, kata mereka. Kan aku berkuasa."

JAMIL : "Padahal nasib suatu masyarakat tergantung pada hal-hal itu. Dan kita jangan melupakan kenyataan bahwa masyarakat itu bukan saja berada dalam konflik dengan orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak sosial tetapi sering pula konflik dengan sifat sifat manusia yang paling dibutuhkan, yang justru ditekan oleh masyarakat itu sendiri."

(untuk membaca naskah lengkapnya: Badai Sepanjang Malam (Max Arifin).pdf

Pentas Teater "Badai Sepanjang Malam" tahun 2018, sutradara Riyanti Wisnu dan Anita Nurjanah

Penggalan dialog di atas merupakan dialog yang ada di dalam suatu naskah lakon "Badai Sepanjang Malam" karya Max Arifin, seorang penulis lakon Indonesia yang juga merupakan seorang guru. Naskah tersebut ditulis pada tahun 1977 dan ternyata hal-hal tersebut masih sangat kontekstual dengan hari ini. Bagaimana banyak hal yang mendasar namun sengaja dihilangkan ataupun seperti ditutup yaitu ruang untuk berdialog. Gagasan pun seperti sudah diatur untuk setiap siswa agar hidupnya sesuai dengan arahan yang ada, tanpa diberi ruang untuk mewujudkan diri dia itu siapa. Akhirnya pemahaman satu arah yang diberikan  (contoh: dari media massa) ditelan mentah-mentah begitu saja tanpa ada ruang untuk berpikir dan menyanggah apa yang ada jikalau memang itu tidak sesuai dengan keadaan yang ada. Walaupun naskah tersebut memang dibuat pada masa 'pembungkaman ala orde baru', tapi ternyata budaya itu masih terasa sampai saat ini. Mengkritisi sesuatu hal menjadi suatu yang tabu. Naskah tersebut pun mengkritisi keadaan masyarakat yang akhirnya nrimo, pada kenyataannya kita memiliki seperangkat kekuatan untuk mempertanyakan sesuatu hal. Termasuk bagaimana sikap tegas atas keadaan saat ini. Data yang tidak terbuka pun membuat kita berspekulasi macam-macam. Kita memang harus cerdas untuk mencari tahu dan memilah semuanya.

Bagaimana naskah ini pun menceritakan tidak meratanya fasilitas pendidikan yang didapatkan di setiap tempatnya, terutama di negara kita. Hal ini juga menjadi pertanyaan mendalam bagi saya.

"Bagaimana ya anak-anak di daerah terpencil mengakses pendidikan di kala pandemi ini?"
"Apakah mereka mendapatkan pendidikan secara online seperti di tempat saya?"
"Apakah mereka tetap mendapat akses pendidikan yang layak dengan fasilitas serba terbatas?"

Ketika banyak pihak terfokus akan penyelesaian wilayah pandemi ini, tapi bagaimana kabar dengan teman-teman tersebut? Memang ini selalu menjadi permasalahan yang pelik dan harus kita cari solusinya bersama-sama. Mempertanyakan pun memang harus diselaraskan pula dengan tindakan ataupun solusi atas masalah yang memang sampai detik ini masih belum terurai seutuhnya.


Tekad dari tokoh JAMIL pada naskah ini mencerminkan bahwa kita sebagai manusia memang bisa merubah keadaan, asalkan kita mau berusaha dan juga ditambah dengan pengetahuan yang cukup pula. Namun masih banyak rintangannya dari mind set masyarakat tertentu yang terkadang masih sangat konservatif dan belum mau menerima perubahan. Melihat keadaan sekitar pun juga menjadi pembelajaran tersendiri dalam mengasah kepekaan kita akan sesuatu fenomena yang terjadi dan kita manusia yang bisa merubah itu dengan 'perbekalan' yang kita punya. Dan sadari pula bahwa kita juga adalah bagian dari masyarakat, yang terkadang kita luput akan hal tersebut. Dan juga sosok SAENAH yang menjadi sosok teman berpikir yang luar baisa selain menjadi teman hidup bagi suaminya. Naskah ini begitu luar biasa. Banyak hal yang dapat dipelajari dan ternyata masih sangat kontekstual dengan hari ini. Dan juga masih sangat kontekstual dengan dunia pendidikan di Indonesia. 

Comments

Popular Posts